Rabu, 15 Juni 2016

Jalanku adalah Takdir(ku)

Jalan kita sekarang berbeda.

Aku memilih jalan lain untuk hidupku, memilih berputar arah mengejar impianku. Kita punya mimpi yang berbeda, jalanpun tentu tak akan sama. Tidak ada yang salah dengan itu. Jalanmu benar bagimu tapi akan jadi keliru saat aku yang mengambil langkah menuju kesana, aku akan tersesat. Pun sebaliknya, jalanku benar saat aku yang menjalaninya, bukan kamu yang menyusurinya. Jalanku akan jadi salah untukmu.
Jalan kita tidak lagi sama. Tidak ada yang salah dengan itu.
Tuhan pernah menempatkanku di persimpangan jalan.

Aku tidak tahu kemana arah jalan baik yang harus aku tempuh untuk hidupku. Berjalan beriringan denganmu, memilih jalan yang sama denganmu, ataukah aku harus memilih jalan lain, berseberangan denganmu?
Jalanan itu berliku, penuh bebatuan, jurang yang terjal dan curam. Ribuan kerikil kecil nan tajam berserakan di setiap jengkal langkah kakiku. Jika aku salah melangkah, telapak kakiku bisa saja terluka dan membuat jejak merah pada tanah yang aku tapaki.

Langit membuatku berpikir keras kala itu.

Kebimbangan memenuhi sekat ruang di kepalaku. Setiap hari aku berkutat dengannya. Berusaha meyakinkan diri. Inikah jalanku? Atau ini hanya egoku semata? Bibirku tak pernah berhenti meminta pada Sang Langit, tunjukkanlah jalan terbaik untukku.
Hari demi hari ku lalui, berkunjung ke berbagai tempat, bertemu dengan banyak orang, mengamati sekitar. Pikirku, aku akan mendapatkan jawaban saat aku berkelana nanti, atau ya, setidaknya membuatku merasa yakin pada diriku sendiri. Semoga saja.
Lama aku menanti petunjuk Langit itu, hingga akhirnya aku tahu jalan mana yang harus aku pilih. Tuhan menuntunku untuk berbelok, berputar arah berseberangan dengan langkahmu. Nampaknya aku harus mengambil jalan lain. Aku yakin, jalan yang Tuhan tunjukkan padaku pastilah yang terbaik untukku. Aku akan semakin dekat dengan impianku.

Aku memilih untuk tidak bersamamu bukan berarti keputusanku salah. Pun bukan pula berarti aku tidak ingin bersamamu. Aku hanya mengikuti petunjuk dari Langit, dan petunjuk itu mengarahkanku ke jalan berbeda, tidak sepertimu.
Inilah jalan yang aku pilih. Inilah jalanku untuk meraih mimpi-mimpiku, lalu menggenggamnya. Tuhan membukakan jalan yang berbeda untukku. Dan aku memutuskan mengikuti jalan itu. Melangkah, setapak demi setapak, menyusurinya walau perlahan.

Aku sangat menikmatinya.

Sekarang, kita hanya harus lebih saling mengerti. Saling menghargai jalan masing-masing, menghormati setiap keputusan yang ada pada kita. Aku mendukungmu, selalu memberimu semangat, pun doaku tak pernah terputus untukmu. Aku harap kamu pun seperti itu, melakukan hal yang sama padaku. Jadi, tidak akan ada lagi sesal karena perbedaan diantara kita. Yang ada hanya tinggal bagaimana kamu dan aku melangkah bersama, beriringan, hingga suatu saat nanti kita menjadi satu. Berjalan bersama menggenggam masa depan.



March 16th 2016, 16.34