Jumat, 29 April 2016

14 April 2015 : Di sudut sempit rumah lautku

Pernahkah kalian membayangkan tinggal di sebuah rumah dengan lantai kaca dimana di bawah nya adalah akuarium raksasa yang berisi ribuan ikan besar-kecil dan jutaan spesies terumbu karang?
Aku yakin, hanya segelintir orang yang pernah membayangkannya.
Imajinasi yang hebat. Ada kebahagiaan yang sangat berarti disana, tapi juga terbesit kengerian didalamnya. Kenapa begitu? Coba bayangkan. Ada sebuah rumah sederhana berlantai kaca. Saat kita berada di dalam rumah itu, pastinya kita bisa melihat dengan sangat jelas apa
yang ada di bawahnya. Nah, selanjutnya kita bayangkan sebuah akuarium raksasa. Isinya ada ribuan spesies terumbu karang yang sangat cantik, berwarna-warni, dan berbagai ukuran. Selain itu ada pula ribuan jenis ikan dari mulai yang hanya sebesar jari kelingking hingga ikan yang sebesar gunung.
Sekarang kita gabungkan keduanya. Sebuah rumah berlantai kaca dan sebuah akuarium raksasa berada di bawahnya. Saat pemandangan di dalam akuarium hanya kumpulan terumbu karang cantik dan ikan-ikan kecil yang lucu, kita akan tersenyum riang. Senang dan takjub karena merasa terhibur oleh mereka. Tapi saat ikan super besar yang melewati lantai rumah kita, bagaimana rasanya? Kaget, takut, dan ngeri. Seakan-akan si ikan raksasa sedang mengintai rumah kita dan siap melahap kita kapanpun dia mau. Ngeri bukan?
Tapi semua itu hanya imajinasi semata. Imajinasi yang … ah, hanya anak kecil yang mengerti dan menikmati imajinasi itu. Haha…
Ya, hanya segelintir orang yang membayangkannya dan hanya khayalan seorang anak kecil. But I’m. Aku termasuk didalamnya. Aku membayangkannya bukan saat aku masih bocah, tapi justru saat aku sudah mulai mengerti bahwa dunia tidak hanya sekedar rumah beserta kebun dan halamannya saja. Aku membayangkannya saat aku hampir tamat sekolah dasar. Sudah cukup besar untuk ukuran seorang anak yang berimajinasi konyol.
Berpuluh tahun, ternyata khayalan ku benar adanya. Imajinasiku menjadi kenyataan. Aku hidup diatas lautan lepas, di sebuah rumah panggung dari kayu dengan pemandangan akuarium raksasa alami buatan Allah SWT di bawah lantainya. Waow!
I got it! That is true! My imagine be come true!
Aku memang membayangkan tentang keberadaan rumah itu, tapi aku tidak pernah membayangkan bahwa akulah orang yang ada didalam rumah itu. Aku mendapatkan kesempatan untuk bisa menikmati mahakarya Allah ini dari sisi yang berbeda. Menikmati alam yang sangat indah. Aku memiliki kehidupan baru, di tempat yang baru, bersama keluarga baru. Aku benar-benar beruntung.  

***

Tujuh bulan sudah aku hidup di pulau ini. Selama tujuh bulan pula aku tidak pernah berhenti mengagumi keindahan alam Raja Ampat. Rasa-rasanya selama aku berada disini, belum pernah rasa bosan menyergapku. Hingga detik ini pun, aku masih merasa kalau semua hanyalah mimpi. Mimpi terindah sepanjang aku hidup. Aku tidak ingin bangun dari tidur karena saat aku terjaga mimpi ini akan sirna. Aku tidak ingin itu terjadi. Ya, tentunya jika semua ini adalah mimpi.
But it is real. It is true, it isn’t just a dream.
“Ini beneran ya? Ya ampun, ternyata aku gak lagi mimpi,” ucapku lirih.
Setiap hari aku selalu mencoba meyakinkan diri, takut kalau-kalau semua ini cuma sekedar mimpi. Begitupun hari ini. Malam ini, aku kembali meyakinkan diriku atas semua yang aku alami. Dengan caraku, tentunya. Berbagai cara sudah aku lakukan, dari mulai cara yang paling sederhana dan wajar, hingga cara yang konyol yang belum pernah aku lakukan sebelumnya.
Malam ini aku memilih cara sederhana. Aku duduk bersila di jembatan depan rumah ditemani anak-anak ku tersayang. Ya, mereka tidak pernah meninggalkanku walau sedetik. Mereka selalu setia menemani dan menjagaku, apalagi tiga bulan terakhir saat aku mulai merasa ‘sendiri’ di rumah laut. Anak-anak dengan gaya mereka yang polos dan selalu kepo, menghiburku siang-malam.
Buku tulis kesayangan dan pulpen hitam andalan, aku dekap erat. Suara riuh tawa dan celoteh anak-anak menjadi backsound ‘pertapaan’ ku. Aku memejamkan mata, bernafas perlahan, dan tersenyum. Menikmati setiap udara malam yang aku hirup, mencoba meresapi dan mensyukurinya. Tanpa sadar aku tersenyum. Lega. Bahagia berbalut sedih. Entah kenapa ada kesedihan yang aku rasa kala itu. Cukup lama aku bertapa, menenangkan dan meyakinkan diri.
Saat aku membuka mata, para malaikat kecil ku tertawa bahagia mengelilingiku. Mereka memelukku erat dan mengucap satu kata ajaib di dunia ini yang paling mujarab untuk menyembuhkan luka hati.
“Ibu, ibu kenapa? Ibu. Kita sayang sekali dengan Ibu. Jangan pernah lupakan kami, ya, Bu” ucap mereka sambil memelukku.
Hatiku serasa meleleh. Semua rasa marah dan kecewa ku runtuh seketika saat aku mendengar kalimat ajaib itu keluar dari mulut mereka. Benar-benar ajaib. Mereka, dengan kepolosan dan ketulusan hati yang dimiliki mengucapkan kata sayang padaku. Dan aku yakin, sangat yakin jika mereka tulus dari lubuk hati yang paling dalam mengatakannya. Mereka tidak hanya menghiburku saja, tapi juga meyakinkanku bahwa semua ini bukanlah mimpi semata.
Semua ini nyata, dan merekalah salah satu bukti paling nyata. Kehadiran mereka dalam hidupku adalah anugerah terhebat yang pernah aku miliki. Tak akan pernah tergantikan dengan apapun dan siapapun. Mereka meyakinkanku bahwa ini adalah kenyataan. Tidak hanya itu, mereka juga meyakinkanku bahwa semua akan baik-baik saja, all is well. Aku bisa membacanya pada setiap tatapan satu-satu dari mereka. “Ibu, semua akan baik-baik saja. Ibu tenang ya. Kita selalu ada untuk Ibu.” Tatapan mata mereka seperti mengatakan itu padaku.

***
Alam kampung ku. Siang atau malam tetaplah mempesona. Suasana kampung yang tenang dan damai membuat aku nyaman. Walau hidup sangat jauh dari peradaban modern, hingar bingar kehidupan kota, tapi aku merasa bahagia. Minim penerangan alias sangat jarang ada listrik yang mengalir di kampung ku, air untuk mandi cuci kakus yang walau tersedia melimpah tapi tetap harus menimba dan mengangkatnya dengan ember berkali-kali, dan tidak tersedianya jaringan (signal) telepon sama sekali tidak membuatku bosan atau bahkan menyerah dengan keadaan.
Justru dengan segala keterbatasan yang ada, aku semakin menikmati kepingan-kepingan hidupku selama berada di kampung ini. Bersyukur. Itulah kunci utamaku bisa bertahan hidup disini. Indahnya alam yang tersaji di depan mata menjadi salah satu penghibur dan penyemangatku. Setiap detik, aku nikmati setiap jengkal langkah kakiku. Setiap detik, aku nikmati setiap hembusan nafasku. Dan setiap detik, aku nikmati apa saja yang alam suguhkan untukku.
Aku sangat menikmatinya.
Malam ini, disaat aku tengah terbuai dengan suasana malam-malam terakhirku di kampung, aku merasakan alam disini semakin mempesona. Semakin menggodaku agar tidak melepaskannya. Ah, alam ini pandai sekali merayu. Aku sulit melepasnya.

***
Saat aku menutup mata –bertapa- tanpa sadar aku menggumamkan kalimat-kalimat yang sedikit berlebihan, atau bahasa anak jaman sekarang itu disebutnya lebay. Bukan sajak, bukan prosa, atau bahkan puisi. Hanya sekumpulan celotehan yang menggambarkan suasana hatiku dengan gaya bahasa bak seorang pujangga. Ah, entahlah apa sebutannya.
Kira-kira, isinya begini:

Nyanyian alam terdendang merdu. Terdengar nyaring di telinga.
Perlahan, merasuki sudut relung hati.
Jiwaku.
Melebur bersama suara semesta nan syahdu.
Setiap lirik nyanyian alam yang terlantun indah, penuh suka cita
Mencurahkan segala isi yang ada padanya.
Melodi nan indah, lembut menyapa. Membuatku terbang melayang bagai burung camar di atas lautan biru.

Jalan hidupku sekarang.
Bersama dengan alam.
Sang alam.
Melantunkan sebuah lagu damainya kehidupan.
Dari satu nyawa yang terlahir, alam bersambut.

Desir lembut angin malam menyejukkan jiwa yang tandus.
Bak oase dipadang pasir nan gersang.
Melegakan. Menenangkan.
Angin tak sendiri.
Suara debur ombak memecah keheningan malam, terasa semakin syahdu
Seakan mengajak berdansa. Romantis.

Laut biru.
Dengan luwes, ia berdendang.
Menyanyikan lagu kesayangannya, merayu.
Bersama, berjalan bersisian.
Sentuhan alam terasa belum sempurna. Kecantikan lumba-lumba.
Meliuk-liuk, menari dengan lincahnya.

Sungguh, suguhan alam yang sangat menakjubkan.
Sangat sempurna.


***