Pernahkah kalian membayangkan tinggal di sebuah rumah dengan lantai kaca
dimana di bawah nya adalah akuarium raksasa yang berisi ribuan ikan besar-kecil
dan jutaan spesies terumbu karang?
Aku yakin, hanya segelintir orang yang pernah membayangkannya.
Imajinasi yang hebat. Ada kebahagiaan yang sangat berarti disana, tapi
juga terbesit kengerian didalamnya. Kenapa begitu? Coba bayangkan. Ada sebuah
rumah sederhana berlantai kaca. Saat kita berada di dalam rumah itu, pastinya
kita bisa melihat dengan sangat jelas apa
yang ada di bawahnya. Nah,
selanjutnya kita bayangkan sebuah akuarium raksasa. Isinya ada ribuan spesies
terumbu karang yang sangat cantik, berwarna-warni, dan berbagai ukuran. Selain
itu ada pula ribuan jenis ikan dari mulai yang hanya sebesar jari kelingking
hingga ikan yang sebesar gunung.
Sekarang kita gabungkan keduanya. Sebuah rumah berlantai kaca dan sebuah
akuarium raksasa berada di bawahnya. Saat pemandangan di dalam akuarium hanya
kumpulan terumbu karang cantik dan ikan-ikan kecil yang lucu, kita akan
tersenyum riang. Senang dan takjub karena merasa terhibur oleh mereka. Tapi
saat ikan super besar yang melewati lantai rumah kita, bagaimana rasanya?
Kaget, takut, dan ngeri. Seakan-akan si ikan raksasa sedang mengintai rumah
kita dan siap melahap kita kapanpun dia mau. Ngeri bukan?
Tapi semua itu hanya imajinasi semata. Imajinasi yang … ah, hanya anak
kecil yang mengerti dan menikmati imajinasi itu. Haha…
Ya, hanya segelintir orang yang membayangkannya dan hanya khayalan
seorang anak kecil. But I’m. Aku
termasuk didalamnya. Aku membayangkannya bukan saat aku masih bocah, tapi justru saat aku sudah mulai
mengerti bahwa dunia tidak hanya sekedar rumah beserta kebun dan halamannya
saja. Aku membayangkannya saat aku hampir tamat sekolah dasar. Sudah cukup
besar untuk ukuran seorang anak yang berimajinasi konyol.
Berpuluh tahun, ternyata khayalan ku benar adanya. Imajinasiku menjadi
kenyataan. Aku hidup diatas lautan lepas, di sebuah rumah panggung dari kayu
dengan pemandangan akuarium raksasa alami buatan Allah SWT di bawah lantainya. Waow!
I got it! That is true! My imagine be come true!
Aku memang membayangkan tentang keberadaan rumah itu,
tapi aku tidak pernah membayangkan bahwa akulah orang yang ada didalam rumah
itu. Aku mendapatkan kesempatan untuk bisa menikmati mahakarya Allah ini dari
sisi yang berbeda. Menikmati alam yang sangat indah. Aku memiliki kehidupan
baru, di tempat yang baru, bersama keluarga baru. Aku benar-benar beruntung.
***
Tujuh bulan sudah aku hidup di pulau ini. Selama tujuh bulan pula aku
tidak pernah berhenti mengagumi keindahan alam Raja Ampat. Rasa-rasanya selama
aku berada disini, belum pernah rasa bosan menyergapku. Hingga detik ini pun,
aku masih merasa kalau semua hanyalah mimpi. Mimpi terindah sepanjang aku
hidup. Aku tidak ingin bangun dari tidur karena saat aku terjaga mimpi ini akan
sirna. Aku tidak ingin itu terjadi. Ya, tentunya jika semua ini adalah mimpi.
But it is real. It is true, it isn’t just a dream.
“Ini beneran ya? Ya ampun, ternyata aku gak lagi mimpi,” ucapku lirih.
Setiap hari aku selalu mencoba meyakinkan diri, takut kalau-kalau semua
ini cuma sekedar mimpi. Begitupun hari ini. Malam ini, aku kembali meyakinkan
diriku atas semua yang aku alami. Dengan caraku, tentunya. Berbagai cara sudah
aku lakukan, dari mulai cara yang paling sederhana dan wajar, hingga cara yang
konyol yang belum pernah aku lakukan sebelumnya.
Malam ini aku memilih cara sederhana. Aku duduk bersila di jembatan
depan rumah ditemani anak-anak ku tersayang. Ya, mereka tidak pernah
meninggalkanku walau sedetik. Mereka selalu setia menemani dan menjagaku,
apalagi tiga bulan terakhir saat aku mulai merasa ‘sendiri’ di rumah laut.
Anak-anak dengan gaya mereka yang polos dan selalu kepo, menghiburku
siang-malam.
Buku tulis kesayangan dan pulpen hitam andalan, aku dekap erat. Suara
riuh tawa dan celoteh anak-anak menjadi backsound
‘pertapaan’ ku. Aku memejamkan mata, bernafas perlahan, dan tersenyum.
Menikmati setiap udara malam yang aku hirup, mencoba meresapi dan
mensyukurinya. Tanpa sadar aku tersenyum. Lega. Bahagia berbalut sedih. Entah
kenapa ada kesedihan yang aku rasa kala itu. Cukup lama aku bertapa,
menenangkan dan meyakinkan diri.
Saat aku membuka mata, para malaikat kecil ku tertawa bahagia
mengelilingiku. Mereka memelukku erat dan mengucap satu kata ajaib di dunia ini
yang paling mujarab untuk menyembuhkan luka hati.
“Ibu, ibu kenapa? Ibu. Kita
sayang sekali dengan Ibu. Jangan pernah lupakan kami, ya, Bu” ucap mereka
sambil memelukku.
Hatiku serasa meleleh. Semua rasa marah dan kecewa ku runtuh seketika
saat aku mendengar kalimat ajaib itu keluar dari mulut mereka. Benar-benar
ajaib. Mereka, dengan kepolosan dan ketulusan hati yang dimiliki mengucapkan
kata sayang padaku. Dan aku yakin,
sangat yakin jika mereka tulus dari lubuk hati yang paling dalam mengatakannya.
Mereka tidak hanya menghiburku saja, tapi juga meyakinkanku bahwa semua ini
bukanlah mimpi semata.
Semua ini nyata, dan merekalah salah satu bukti paling nyata. Kehadiran
mereka dalam hidupku adalah anugerah terhebat yang pernah aku miliki. Tak akan
pernah tergantikan dengan apapun dan siapapun. Mereka meyakinkanku bahwa ini
adalah kenyataan. Tidak hanya itu, mereka juga meyakinkanku bahwa semua akan
baik-baik saja, all is well. Aku bisa
membacanya pada setiap tatapan satu-satu dari mereka. “Ibu, semua akan
baik-baik saja. Ibu tenang ya. Kita selalu ada untuk Ibu.” Tatapan mata mereka
seperti mengatakan itu padaku.
***
Alam kampung ku. Siang atau malam tetaplah
mempesona. Suasana kampung yang tenang dan damai membuat aku nyaman. Walau
hidup sangat jauh dari peradaban modern, hingar bingar kehidupan kota, tapi aku
merasa bahagia. Minim penerangan alias sangat jarang ada listrik yang mengalir
di kampung ku, air untuk mandi cuci kakus yang walau tersedia melimpah tapi
tetap harus menimba dan mengangkatnya dengan ember berkali-kali, dan tidak
tersedianya jaringan (signal) telepon sama sekali tidak membuatku bosan atau
bahkan menyerah dengan keadaan.
Justru dengan segala keterbatasan yang ada, aku semakin menikmati
kepingan-kepingan hidupku selama berada di kampung ini. Bersyukur. Itulah kunci
utamaku bisa bertahan hidup disini. Indahnya alam yang tersaji di depan mata
menjadi salah satu penghibur dan penyemangatku. Setiap detik, aku nikmati
setiap jengkal langkah kakiku. Setiap detik, aku nikmati setiap hembusan
nafasku. Dan setiap detik, aku nikmati apa saja yang alam suguhkan untukku.
Aku sangat menikmatinya.
Malam ini, disaat aku tengah terbuai dengan suasana malam-malam
terakhirku di kampung, aku merasakan alam disini semakin mempesona. Semakin
menggodaku agar tidak melepaskannya. Ah, alam ini pandai sekali merayu. Aku
sulit melepasnya.
***
Saat aku menutup mata –bertapa- tanpa
sadar aku menggumamkan kalimat-kalimat yang sedikit berlebihan, atau bahasa
anak jaman sekarang itu disebutnya lebay.
Bukan sajak, bukan prosa, atau bahkan puisi. Hanya sekumpulan celotehan yang
menggambarkan suasana hatiku dengan gaya bahasa bak seorang pujangga. Ah,
entahlah apa sebutannya.
Kira-kira, isinya begini:
Nyanyian alam terdendang merdu. Terdengar nyaring di telinga.
Perlahan, merasuki sudut relung hati.
Jiwaku.
Melebur bersama suara semesta nan syahdu.
Setiap lirik nyanyian alam yang terlantun indah, penuh suka cita
Mencurahkan segala isi yang ada padanya.
Melodi nan indah,
lembut menyapa. Membuatku terbang melayang bagai burung camar di atas lautan
biru.
Jalan hidupku
sekarang.
Bersama dengan alam.
Sang alam.
Melantunkan sebuah
lagu damainya kehidupan.
Dari satu nyawa yang
terlahir, alam bersambut.
Desir lembut angin malam
menyejukkan jiwa yang tandus.
Bak oase dipadang
pasir nan gersang.
Melegakan.
Menenangkan.
Angin tak sendiri.
Suara debur ombak
memecah keheningan malam, terasa semakin syahdu
Seakan mengajak
berdansa. Romantis.
Laut biru.
Dengan luwes, ia
berdendang.
Menyanyikan lagu
kesayangannya, merayu.
Bersama, berjalan
bersisian.
Sentuhan alam terasa
belum sempurna. Kecantikan lumba-lumba.
Meliuk-liuk, menari
dengan lincahnya.
Sungguh, suguhan alam
yang sangat menakjubkan.
Sangat sempurna.
***