Rabu, 25 November 2015

13 Mei 2015 : It’s all about him, My Sem part #1

Namanya Samuel Ambarau. Sem panggilannya. Dia anak Papua asli. Ibunya dari Biak dan ayahnya dari Kofiau, Raja Ampat. Dia anak ketiga dari lima bersaudara. He’s a good boy. Seperti anak-anak Papua pada umumnya, saat pertama kali ketemu dia sangat pemalu. Dia selalu menuduk saat berbicara denganku, malu katanya. Hehe.. lucu ya?
Saat pertama kali aku menginjakkan kaki di Raja Ampat, dia dan teman-temannya yang menjemputku di dermaga pulau tetangga. Waktu itu hari sudah beranjak malam. Jadi aku tidak begitu ‘ngeh’ dengan wajah Sem ataupun teman-temannya. Ditambah lagi, sekilas pada saat itu aku merasa wajah mereka semua mirip. Dimataku, Sem dan teman-temannya berwajah sama seperti anak kembar identik. Aku tidak tahu siapa-siapa saja yang menjemput. So, dia yang selalu mengingatkanku tentang penjemputan kala itu.


Dia pribadi yang humble. Kita tidak membutuhkan waktu lama untuk bisa akrab layaknya teman sebaya. Setiap hari sejak hari pertamaku di pulau, dia selalu menemani dan menjadi hiburan tersendiri bagiku. Dari pagi hingga malam, ibarat kata, 24 jam sehari dan 7 hari seminggu dia selalu mengunjungi rumah lautku. Belajar, bermain, curhat, ataupun hanya sekedar menyapa. Dia tidak pernah absen untuk setor muka. Kalau dia tidak menyapa atau senyum padaku, aku pasti menggodanya bahkan terkadang menegurnya. Tentunya dalam konteks bercanda.
Banyak hal menarik yang sudah alami semenjak mengenal Sem dan teman-temannya. Keseruan, kekonyolan, kelucuan, dan banyak lagi hal tak terduga. Terkadang aku sampai beradu fisik dengannya saat bercanda. Kita tidak bertengkar, hanya bermain saja. Salah satu keseruan yang kita lakukan. Sem, dia bukan hanya seorang murid tetapi lebih dari itu. Dia adik kesayanganku.
Awalnya Sem tidak berani menyentuhku kecuali bersalaman. Dia segan dan sangat menghormatiku sebagai gurunya di sekolah. Terlihat sangat kaku dan berjarak. Mungkin karena kita baru saling mengenal. Tapi semakin hari kita semakin dekat. Dan bahkan sekarang, kita sudah seperti kakak-adik. Ya berantem lah, ngambek lah, nangis lah, sampai-sampai dia juga manja padaku. Emm, maksudnya dia minta diperhatikan lebih.
For example, dia minta oleh-oleh khusus dariku yang berbeda dengan teman lainnya. Dia juga sering merengek agar diperlakukan istimewa baik di rumah maupun di sekolah. Sangat bisa dimaklumi. Dia seperti itu karena merasa kita sangat dekat satu sama lain. Dia pun pernah membuatku marah. Tapi aku sendiri tidak pernah bisa benar-benar marah padanya. Marahku tidak lebih dari 1 jam. Kalau dia tahu aku sedang marah, dia langsung mendekatiku dan meminta maaf dengan gayanya yang manja. Bagaimana aku bisa marah lama-lama dengannya?

***

Aku punya satu cerita tentangnya yang paling aku ingat.
Waktu itu, UAS semester 1. Dia begitu semangat belajar fisika. Setiap hari dia mencoba mengerjakan ulang soal-soal yang sudah pernah dibahas sebelumnya. Dia tidak nyontek sama sekali pembahasan soalnya. Sampai pada malam sebelum ulangan fisika, dia memintaku membuatkan banyak soal dengan tingkat kesulitan yang berbeda-berbeda. Dari mulai yang sangat gampang hingga yang sulit.
Sambil dia mengerjakan soal, dia tidak mau ditinggal. Aku harus selalu didekatnya dan hanya boleh mengajarinya. Dia tidak memberikan kesempatan pada teman-temannya untuk diajari olehku.
“Hey! Ko pergi sudah. Ibu sedang ajar saya. Sa pu soal banyak ini. Ko pergi saja sana! Ko jangan ganggu-ganggu dulu!”, kata Sem memarahi temannya.
“Heh,Sem. Ko ini kenapa?! Kitorang juga mau belajar fisika baru. Ko larang-larang kita minta ajar ibu. Ibu Febri bukan cuma ko punya ibu guru saja. Ibu Febri juga kitorang punya”, teman-teman menimpali.
“Ibu! Itu Sem pelit sekali. Kita kan juga mau belajar sama ibu tapi Sem tara boleh ibu ajar kami. Ih, Sem ini. Ko saja yang pergi sudah.” kata Kine, teman sekelasnya.
Setelah perdebatan panjang, akhirnya Sem mengalah. Dia memberikan kesempatan teman-temannya untuk ikut belajar. Sem sangat senang saat dia berhasil mengerjakan satu soal yang cukup sulit dengan kemampuannya tanpa bertanya. Teriak-teriak di dalam rumah sampai kena marah teman lainnya. Bahkan saking senangnya dia memukuli teman sebelahnya. Haha.. Ada-ada saja memang tingkah Sem.
Dan setelah semua soal berhasil dia kerjakan dengan sempurna, dia bilang, “Ibu, sa janji dengan ibu. Besok sa pu nilai 100. Kalau sa pu nilai tidak 100, ibu pukul saya e. Pukul kuat saja dengan rotan 3x. Ya ibu?.” Dia benar-benar bersemangat mengatakannya. Dan ya, teman-teman yang lain pun mengikuti cara Sem. Secara tidak langsung, mereka membuat perjanjian denganku. Jika mereka tidak mendapatkan nilai 100 pada UAS mata pelajaran fisika kelas IX, mereka siap dipukul 3x dengan menggunakan rotan. Ok! Deal!
Singkat cerita, hasil ulangan sudah ditangan. Nilaipun sudah keluar. Saat aku masuk ruang kelas membawa rotan yang cukup besar, tiba-tiba kelas jadi hening. Ketegangan terasa memenuhi ruangan. Keringat dingin karena rasa takut pun mendadak menghinggapi Sem dan teman-teman.
“Ibu, bagaimana nilai kitorang punya? Ibu jangan buat kita takut. Kita penasaran sekali ibu. Ibu panggil kita sudah. Haduh, ibu ini e.” Sem penasaran.
“Iya ibu. Ayo ibu bicara sudah berapa nilai kita.” murid-murid saling bersahutan.
“Ok! Ibu akan bacakan satu per satu ya.” kataku.
Setelah semua mendapatkan nilai masing-masing, inilah saat yang paling ditunggu. The execution moment. And finally.. Kelas menjadi riuh. Sedih, senang, takut, dan ekspresi lainnya tumpah tuah. Aku menenangkan. Dan karena begitu banyak murid yang tidak berhasil mendapatkan nilai 100, aku memutuskan untuk tidak mengeksekusi mereka di sekolah. Aku punya ide lain yang lebih brilliant.

***

Sore hari, Sem dan beberapa murid kelas IX datang menemuiku.
“Ibu. Ibu marah dengan saya kah? Ibu. Ibu saya minta maaf e. Saya sudah belajar sampai sa pu kepala pusing, ibu juga lihat saya belajar. Tapi saya tidak dapat nilai 100. Ibu buat soal beda dengan yang semalam jadi. Soal yang untuk ulangan tadi lebih sulit, ibu. Ibu, saya minta maaf e. Saya minta maaf. Ibu sekarang pukul saya e, yang kuat saja ibu.” Sem memohon.
“Ibu, kita juga minta maaf dengan ibu. Kita tidak bisa tepati janji dengan ibu. Ibu sekarang pukul kita. Ini ibu, kita su ambilkan rotannya. Ayo ibu, pukul kita.” tambah yang lain.
Tentu aku tidak akan tega memukul mereka dengan kuat. Aku hanya memukul mereka 1x dan itupun tidak kuat. Setelah itu, aku memberikan mereka tugas pengganti pukulan. Selama Sem menjalankan tugasnya, dia terus saja meminta maaf padaku. He’s so funny, so cute. Dia membuatku tersenyum dan gemas karena tingkahnya itu.
Terlepas dari statusnya sebagai murid, aku sangat menyukainya. As a friend,exactly. And I love him so much as my young brother. Dia tidak hanya murid dan adik ku, tapi dia juga guru bagiku. Dia mengajarkan banyak sekali pelajaran dan pengalaman baru yang menakjubkan. Dia juga menyadarkanku banyak hal tentang hidup. He’s my little teacher.

***

 Hari-hari terakhirku berada di pulau, aku habiskan bersamanya dan murid-murid semua. Aku tidak akan pernah menyia-nyiakan sisa waktuku disini. Aku melakukan hal konyol bersama mereka, hal gila yang belum pernah aku lakukan sebelumnya selama ada di pulau ini. Yes, now I did it. I’m not believe if I do that. Haha.. Hari-hari terakhir yang sangat menyenangkan. Memorable banget deh pokoknya.


Thank you so much,my little angles. You’re always in my heart. You changes my world, all of you. I love you so much.