Namanya
Samuel Ambarau. Sem panggilannya. Dia anak Papua asli. Ibunya dari Biak dan
ayahnya dari Kofiau, Raja Ampat. Dia anak ketiga dari lima bersaudara. He’s a good boy. Seperti anak-anak Papua
pada umumnya, saat pertama kali ketemu dia sangat pemalu. Dia selalu menuduk
saat berbicara denganku, malu katanya. Hehe.. lucu ya?
Saat
pertama kali aku menginjakkan kaki di Raja Ampat, dia dan teman-temannya yang
menjemputku di dermaga pulau tetangga. Waktu itu hari sudah beranjak malam.
Jadi aku tidak begitu ‘ngeh’ dengan wajah Sem ataupun teman-temannya. Ditambah
lagi, sekilas pada saat itu aku merasa wajah mereka semua mirip. Dimataku, Sem
dan teman-temannya berwajah sama seperti anak kembar identik. Aku tidak tahu siapa-siapa
saja yang menjemput. So, dia yang
selalu mengingatkanku tentang penjemputan kala itu.
Dia
pribadi yang humble. Kita tidak membutuhkan
waktu lama untuk bisa akrab layaknya teman sebaya. Setiap hari sejak hari
pertamaku di pulau, dia selalu menemani dan menjadi hiburan tersendiri bagiku. Dari
pagi hingga malam, ibarat kata, 24 jam sehari dan 7 hari seminggu dia selalu
mengunjungi rumah lautku. Belajar, bermain, curhat, ataupun hanya sekedar
menyapa. Dia tidak pernah absen untuk setor muka. Kalau dia tidak menyapa atau
senyum padaku, aku pasti menggodanya bahkan terkadang menegurnya. Tentunya
dalam konteks bercanda.
Banyak
hal menarik yang sudah alami semenjak mengenal Sem dan teman-temannya. Keseruan,
kekonyolan, kelucuan, dan banyak lagi hal tak terduga. Terkadang aku sampai beradu
fisik dengannya saat bercanda. Kita tidak bertengkar, hanya bermain saja. Salah
satu keseruan yang kita lakukan. Sem, dia bukan hanya seorang murid tetapi
lebih dari itu. Dia adik kesayanganku.
Awalnya
Sem tidak berani menyentuhku kecuali bersalaman. Dia segan dan sangat
menghormatiku sebagai gurunya di sekolah. Terlihat sangat kaku dan berjarak. Mungkin
karena kita baru saling mengenal. Tapi semakin hari kita semakin dekat. Dan
bahkan sekarang, kita sudah seperti kakak-adik. Ya berantem lah, ngambek lah,
nangis lah, sampai-sampai dia juga manja padaku. Emm, maksudnya dia minta
diperhatikan lebih.
For example, dia minta oleh-oleh khusus dariku yang berbeda
dengan teman lainnya. Dia juga sering merengek agar diperlakukan istimewa baik
di rumah maupun di sekolah. Sangat bisa dimaklumi. Dia seperti itu karena merasa
kita sangat dekat satu sama lain. Dia pun pernah membuatku marah. Tapi aku sendiri
tidak pernah bisa benar-benar marah padanya. Marahku tidak lebih dari 1 jam. Kalau
dia tahu aku sedang marah, dia langsung mendekatiku dan meminta maaf dengan
gayanya yang manja. Bagaimana aku bisa marah lama-lama dengannya?
***
Aku punya satu cerita tentangnya
yang paling aku ingat.
Waktu
itu, UAS semester 1. Dia begitu semangat belajar fisika. Setiap hari dia
mencoba mengerjakan ulang soal-soal yang sudah pernah dibahas sebelumnya. Dia tidak
nyontek sama sekali pembahasan soalnya. Sampai pada malam sebelum ulangan fisika,
dia memintaku membuatkan banyak soal dengan tingkat kesulitan yang
berbeda-berbeda. Dari mulai yang sangat gampang hingga yang sulit.
Sambil
dia mengerjakan soal, dia tidak mau ditinggal. Aku harus selalu didekatnya dan
hanya boleh mengajarinya. Dia tidak memberikan kesempatan pada teman-temannya
untuk diajari olehku.
“Hey!
Ko pergi sudah. Ibu sedang ajar saya. Sa pu soal banyak ini. Ko pergi saja
sana! Ko jangan ganggu-ganggu dulu!”, kata Sem memarahi temannya.
“Heh,Sem.
Ko ini kenapa?! Kitorang juga mau belajar fisika baru. Ko larang-larang kita minta
ajar ibu. Ibu Febri bukan cuma ko punya ibu guru saja. Ibu Febri juga kitorang
punya”, teman-teman menimpali.
“Ibu!
Itu Sem pelit sekali. Kita kan juga mau belajar sama ibu tapi Sem tara boleh
ibu ajar kami. Ih, Sem ini. Ko saja yang pergi sudah.” kata Kine, teman
sekelasnya.
Setelah
perdebatan panjang, akhirnya Sem mengalah. Dia memberikan kesempatan
teman-temannya untuk ikut belajar. Sem sangat senang saat dia berhasil
mengerjakan satu soal yang cukup sulit dengan kemampuannya tanpa bertanya.
Teriak-teriak di dalam rumah sampai kena marah teman lainnya. Bahkan saking
senangnya dia memukuli teman sebelahnya. Haha.. Ada-ada saja memang tingkah Sem.
Dan
setelah semua soal berhasil dia kerjakan dengan sempurna, dia bilang, “Ibu, sa
janji dengan ibu. Besok sa pu nilai 100. Kalau sa pu nilai tidak 100, ibu pukul
saya e. Pukul kuat saja dengan rotan 3x. Ya ibu?.” Dia benar-benar bersemangat
mengatakannya. Dan ya, teman-teman yang lain pun mengikuti cara Sem. Secara
tidak langsung, mereka membuat perjanjian denganku. Jika mereka tidak
mendapatkan nilai 100 pada UAS mata pelajaran fisika kelas IX, mereka siap
dipukul 3x dengan menggunakan rotan. Ok! Deal!
Singkat
cerita, hasil ulangan sudah ditangan. Nilaipun sudah keluar. Saat aku masuk
ruang kelas membawa rotan yang cukup besar, tiba-tiba kelas jadi hening.
Ketegangan terasa memenuhi ruangan. Keringat dingin karena rasa takut pun mendadak
menghinggapi Sem dan teman-teman.
“Ibu,
bagaimana nilai kitorang punya? Ibu jangan buat kita takut. Kita penasaran
sekali ibu. Ibu panggil kita sudah. Haduh, ibu ini e.” Sem penasaran.
“Iya
ibu. Ayo ibu bicara sudah berapa nilai kita.” murid-murid saling bersahutan.
“Ok!
Ibu akan bacakan satu per satu ya.” kataku.
Setelah semua mendapatkan nilai masing-masing, inilah
saat yang paling ditunggu. The execution
moment. And finally.. Kelas
menjadi riuh. Sedih, senang, takut, dan ekspresi lainnya tumpah tuah. Aku
menenangkan. Dan karena begitu banyak murid yang tidak berhasil mendapatkan
nilai 100, aku memutuskan untuk tidak mengeksekusi mereka di sekolah. Aku punya
ide lain yang lebih brilliant.
***
Sore hari, Sem dan beberapa murid
kelas IX datang menemuiku.
“Ibu.
Ibu marah dengan saya kah? Ibu. Ibu saya minta maaf e. Saya sudah belajar
sampai sa pu kepala pusing, ibu juga lihat saya belajar. Tapi saya tidak dapat
nilai 100. Ibu buat soal beda dengan yang semalam jadi. Soal yang untuk ulangan
tadi lebih sulit, ibu. Ibu, saya minta maaf e. Saya minta maaf. Ibu sekarang
pukul saya e, yang kuat saja ibu.” Sem memohon.
“Ibu,
kita juga minta maaf dengan ibu. Kita tidak bisa tepati janji dengan ibu. Ibu
sekarang pukul kita. Ini ibu, kita su ambilkan rotannya. Ayo ibu, pukul kita.”
tambah yang lain.
Tentu
aku tidak akan tega memukul mereka dengan kuat. Aku hanya memukul mereka 1x dan
itupun tidak kuat. Setelah itu, aku memberikan mereka tugas pengganti pukulan.
Selama Sem menjalankan tugasnya, dia terus saja meminta maaf padaku. He’s so funny, so cute. Dia membuatku
tersenyum dan gemas karena tingkahnya itu.
Terlepas
dari statusnya sebagai murid, aku sangat menyukainya. As a friend,exactly. And I love him so much as my young brother.
Dia tidak hanya murid dan adik ku, tapi dia juga guru bagiku. Dia mengajarkan
banyak sekali pelajaran dan pengalaman baru yang menakjubkan. Dia juga
menyadarkanku banyak hal tentang hidup. He’s
my little teacher.
***
Hari-hari terakhirku berada di
pulau, aku habiskan bersamanya dan murid-murid semua. Aku tidak akan pernah
menyia-nyiakan sisa waktuku disini. Aku melakukan hal konyol bersama mereka,
hal gila yang belum pernah aku lakukan sebelumnya selama ada di pulau ini. Yes, now I did it. I’m not believe if I do
that. Haha.. Hari-hari terakhir yang sangat menyenangkan. Memorable banget deh pokoknya.
Thank you so much,my little angles. You’re always in
my heart. You changes my world, all of you. I love you so much.