Senin, 03 Oktober 2016

5 Juli 2016

Asal kamu tahu saja, aku masih sangat menyayangimu hingga hari ini.

# # #

Hatiku kembali merasakan sesak pagi ini, sesaat setelah rindu menyerang dengan hebatnya. Rindu kerap membuat waktu serasa berhenti berputar. Jam di tangan seperti bergerak melambat seolah kehilangan dayanya. Hingga rasa sesak yang kurasa seakan tak mau pergi, ikut berhenti bersama waktu, terus menusuk dan membuatku ngilu. Hanya rindu yang bisa melakukannya karena hanya rindulah yang menjadikan denting waktu bagaikan abu.

Saat rindu mulai hadir dan menyapa, segalanya jadi terasa begitu lama. Suara detak jantung terdengar semakin keras. Gemericik hujan berubah diam tanpa suara, rintik air yang jatuh melambat tanpa sebab, dan hujan pun menjadi terasa semakin sendu. Lantunan musik cadas nan keras terdengar seperti musik instrumental lembut dan romantis di telinga. Ah, semua itu bisa terjadi hanya karena rindu yang memang syahdu.

Apa aku berlebihan dalam menggambarkan rindu? Hm, mungkin iya. Rindu kan memang begitu adanya. Ia bisa mengubah banyak hal yang terkadang tak terpikirkan oleh logika kita menjadi sesuatu yang lumrah dan biasa.

Kamu tau, rindu selalu bisa membuat pilu. Pada rindu yang seringkali menyapa dalam di relung hati, tak semestinya kita mendendam. Rindu tak pernah salah. Rindu itu tak pernah keliru memasuki hati. Pun kita tak seharusnya mengeluh saat ia datang. Biarkan saja. Ia hanya sekedar menyapa agar hati kita tidak gersang lalu kemudian mati rasa. Aku yakin, rindu tak menginginkan hal itu karena rindu itu baik.

Berbalas sapa dengan rindu, tidak ada salahnya. Anggap saja sebagai usaha agar rindu dan hati kita sendiri nyaman. Waktu memberikan kesempatan pada hati untuk menikmati 'rasa' yang dihadirkan rindu disetiap masanya.