Langit yang temaram,
mendung.
Ya, mendung memang tak berarti hujan
Pun tak berarti menakutkan
Hey, lihat!
Ada cahaya disana, di
celah awan itu. Indah sekali siluetnya.
Sungguh tak disangka,
hanya setitik kecil tapi bisa memanjakan mata seluruh insan yang
melihatnya
Dan… lihat itu!
Ada pelangi. Wah,
cantiknya!
Begitu mempesona, like a magic.
Menatap langit sore
kala itu, seketika terbayang
Andai aku bisa
terbang.
Ingin sekali rasanya aku melayang, menembus awan melewati sang
pelangi.
Akan sangat menyenangkan tentunya.
Tapi... Ah, itu mustahil.
Saat ku pejamkan mata,
lirih suara angin kudengar berhembus
Sayup-sayup namun terdengar
merdu,
Syahdu nyanyian alam,
Hembusan angin sore
itu terasa berbeda,
Membawa dingin yang
menusuk hingga ke tulang, seakan menyampaikan sebuah pesan
‘aku ada, dan akan
tetap ada menemanimu.’
Seperti halnya suara
debur ombak yang selalu kudengar, setiap menit.
Senandung khas laut biru.
The sweetest sound in the world
Merdu, teduh
menenangkan.
Menentramkan jiwa
setiap makhluk yang mendengarnya
Akupun terhanyut,
Hanyut dalam dekapan
lembut sang angin,
Hanyut dalam rona
jingga langit sore,
Hanyut dalam indahnya
pesona sang pelangi,
Dan… aku terhanyut
dalam setiap denyut nadi pulau ku.
Aku cinta, tetap
cinta, dan akan selalu cinta padamu.
Tanah Papua, Bumi
Raja Ampat.
#1.
28-10-2014