Senin, 16 November 2015

Sebuah Sajak dari Negeri Cenderawasih

Secercah cahaya dibalik gelapnya langit
Langit yang temaram, mendung.
Ya, mendung memang tak berarti hujan
Pun tak berarti menakutkan

Hey, lihat!
Ada cahaya disana, di celah awan itu. Indah sekali siluetnya.
Sungguh tak disangka, hanya setitik kecil tapi bisa memanjakan mata seluruh insan yang melihatnya
Dan… lihat itu!

Ada pelangi. Wah, cantiknya!
Begitu mempesona, like a magic.

Menatap langit sore kala itu, seketika terbayang
Andai aku bisa terbang.
Ingin sekali rasanya aku melayang, menembus awan melewati sang pelangi.
Akan sangat menyenangkan tentunya.
Tapi... Ah, itu mustahil.

Saat ku pejamkan mata, lirih suara angin kudengar berhembus
Sayup-sayup namun terdengar merdu,
Syahdu nyanyian alam,
Hembusan angin sore itu terasa berbeda,
Membawa dingin yang menusuk hingga ke tulang, seakan menyampaikan sebuah pesan
‘aku ada, dan akan tetap ada menemanimu.’

Seperti halnya suara debur ombak yang selalu kudengar, setiap menit.
Senandung khas laut biru.
The sweetest sound in the world
Merdu, teduh menenangkan.
Menentramkan jiwa setiap makhluk yang mendengarnya

Akupun terhanyut,
Hanyut dalam dekapan lembut sang angin,
Hanyut dalam rona jingga langit sore,
Hanyut dalam indahnya pesona sang pelangi,
Dan… aku terhanyut dalam setiap denyut nadi pulau ku.

Aku cinta, tetap cinta, dan akan selalu cinta padamu.
Tanah Papua, Bumi Raja Ampat.



#1. 28-10-2014